Rakor ICARE : Integrasi Sistem Informasi Untuk Perencanaan Kawasan Pertanian Korporasi
KOTA JAMBI — Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jambi yang diwakili oleh Husnul Ardi, SP menghadiri secara daring Rapat Koordinasi Program Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) dengan tema “Integrasi Sistem Informasi dalam Mendukung Pengambilan Keputusan Perencanaan dan Pengembangan Kawasan Pertanian Berbasis Korporasi”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Balai Perakitan dan Pengujian Agroklimat dan Hidrologi Pertanian di bawah naungan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), bertempat di Harris Hotel & Convention Cibinong City Mall, Bogor, dan diikuti oleh seluruh Balai Penerapan Modernisasi Pertanian se-Indonesia baik secara luring maupun daring melalui Zoom Meeting (13/10).
Acara dibuka secara resmi oleh Dr. Ir. Husnain, M.Si, selaku Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, yang dalam arahannya menekankan pentingnya integrasi sistem informasi pertanian dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis data dan kondisi lapangan terkini. Menurutnya, integrasi sistem seperti SIAP TANAM, SISCROP, dan SIFORTUNA menjadi langkah strategis dalam mewujudkan perencanaan pertanian yang adaptif, presisi, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.
Sesi pertama diisi oleh Dr. Rima Purnamayani, SP., M.Si, Kepala BRMP Agroklimat dan Hidrologi Pertanian, yang memaparkan gambaran umum kegiatan integrasi sistem informasi untuk mendukung pengambilan keputusan dalam pengembangan kawasan pertanian berbasis korporasi. Beliau menjelaskan bahwa digitalisasi sektor pertanian kini menjadi keniscayaan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan tuntutan efisiensi produksi, dengan sasaran utama yaitu penyediaan sistem informasi yang mampu memberikan rekomendasi waktu tanam, kebutuhan sarana produksi, serta monitoring pertanaman secara real time.
Selanjutnya, materi disampaikan oleh Setyono Hari Adi, Ph.D dari BRIN yang menguraikan kerangka penyusunan sistem informasi terintegrasi berbasis tanaman padi. Beliau menekankan pentingnya kolaborasi lintas lembaga antara BMKG, Kementerian PUPR, BRMP, dan Ditjen Tanaman Pangan dalam penyediaan data sharing untuk menghasilkan model prediksi waktu tanam optimal berbasis kondisi agroklimat terkini.
Paparan berikutnya oleh Ir. Hermansyah membahas konsep dan implementasi Sistem Broadcast WhatsApp + AI Kementan, yaitu sistem komunikasi pertanian cerdas berbasis WhatsApp Business API yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan. Sistem ini dirancang untuk mempercepat penyebaran informasi pertanian, seperti cuaca, rekomendasi tanam, dan kebijakan teknis, secara personal dan otomatis kepada penyuluh serta petani di seluruh Indonesia.
Pada sesi siang, Adang Hamdani, SP., M.Si memaparkan materi tentang Verifikasi Implementasi Sistem Informasi Terintegrasi di Lokasi ICARE. Beliau menjelaskan bahwa proses verifikasi lapang bertujuan untuk memastikan keakuratan model rekomendasi waktu tanam sesuai kondisi aktual di lahan irigasi, tadah hujan, maupun rawa. Kegiatan verifikasi juga mencakup pengumpulan umpan balik dari petani untuk meningkatkan relevansi sistem terhadap kondisi lokal.
Sesi terakhir disampaikan oleh Mumuh Muharam, SE., M.Si dari Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian, yang memaparkan mekanisme administrasi keuangan dan pelaporan kegiatan Competitive Grant ICARE. Beliau menegaskan pentingnya pelaksanaan kegiatan sesuai ketentuan Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2025 tentang Pengadaan Barang dan Jasa serta Peraturan LKPP Nomor 3 Tahun 2021 tentang Pedoman Swakelola, dengan memperhatikan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan efisiensi.
Rapat koordinasi ditutup dengan sesi diskusi dan penyusunan rencana tindak lanjut oleh Kepala BRMP Agroklimat dan Hidrologi Pertanian. Dalam penutupnya, disampaikan komitmen untuk memperkuat kolaborasi antarunit BRMP seluruh Indonesia dalam penerapan sistem informasi pertanian terintegrasi, khususnya untuk mendukung program ICARE di lapangan terutama untuk 4 Locus Provinsi lokasi Program yang ditargetkan, yaitu Provinsi Lampung, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan.
Kegiatan ini berjalan lancar dan interaktif, kemudian menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang akan menjadi pedoman dalam implementasi integrasi sistem informasi pertanian di seluruh wilayah kerja lingkup Balai Penerapan Modernisasi Pertanian seluruh Indonesia.